Rujak Cingur Memang Lezat, Ekumene Harus Lebih Nikmat

0
17

Surabaya terkenal kuliner Rujak Cingurnya. Simak saja lagu: “Rek ayo rek, mlaku mlaku nyang Tunjungan . . .” lagu itu berakhir dengan kata: “. . . apeh kenalan anake sing dodol rujak cingur”. Rujak cingur dikenal, disukai, diburu di mana saja ia dijual, kata arek Suroboyo. Rujak cingur pasti ada cingur (hidung) sapi yang direbus dan dipotong-potong. Nikmat, segar, karena terdiri dari pelbagai sayuran dan buah-buahan tertentu. Lalu diberi bumbu petis, tahu dan krupuk yang menambah lezat bagi lidah yang tahu selera.

Dilihat memang menarik sehingga banyak orang melirik ke kuliner yang  satu ini. Baik itu lapisan atas dengan bawa tas atau lapisan bawah dengan sandal jepit sekali pun. Kalau sudah nongkrong tak ada beda siapa yang makan dan siapa yang harus dilayani. Seperti rujak cingur yang terdiri pelbagai bahan buah dan sayuran, serta cingur sapi yang disatukan dengan bumbu yang melezatkan, demikian juga istilah ‘ekumene’ yang berarti juga menyatukan pelbagai unsur agar menjadi satu. Seperti apa sebenarnya kaitan keduanya?

Apa Ekumene?

Tapi ekumene bukan kuliner, ia dikenal sejak tempo doeloe. Diteliti dan diwacanai oleh para teolog. Diolah oleh para elit gereja di tingkat nasional dan internasional. Dipasarkan oleh lembaga sakral yang extra gerejani maupun yang intra gerejani. Dijadikan motto berabad-abad sampai mendunia, tapi belum nyata. Lahirlah bermacam restoran rohani yang menyajikan menu ‘ekumene’ pada abad 20seperti WorldCouncil of Churches (WCC), Lutheran World Federation (LWF), World Aliance Reformed Churches (WARC), World Evangelical Aliance (WEA). Dan masih seabrek nama organisasi yang mengola dan mengemas ekumene yang tak kalah lezat dan nikmatnya, ketimbang rujak cingur Suroboyo.

Entah sadar atau tidak, begitu kita mendengar kata ekumene, gambaran kita tertuju pada acara bersama antar beberapa gereja. Kata ekumene baru dibakukan dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia th 1988 dengan arti: “gerakan yang bertujuan menyatukan atau menghimpun kembali gereja-gereja Protestan sedunia dan akhirnya menyatukan segenap umat Kristen”.

Aslinya ditulis dalam bahasa Yunani: oikoumēnē yang artinya dunia. Bukan ‘oikumene’ seperti ditulis beberapa orang Kristen. Kata ini terdiri dari kata benda oikosartinya rumah (Kisah Rasul 16:15) dan kata kerja menō (Matius 10:11) artinya mendiami, tinggal. Kalau begitu, ekumene adalah dunia yang kita diami. Sehingga dalam artian yang luas: seluruh dunia yang didiami, gereja seluruhnya, hubungan antar gereja-gereja serta usaha untuk mewujudkan keesaan gereja yang sudah terpecah itu. Istilah oikoumene dipakai dalam PB bahasa Yunani sebanyak 15 x, misalnya Matius 24:14.Rupanya hasrat dan tekad di atas melahirkan pelbagai badan ekumene yang latar belakangnya pun berbeda, tapi toh intinya sama.

GKI dan Ekumene

Dalam mukadimah Tata Gereja GKI dituliskan: “Sebagai umat baru, Gereja itu esa. Keesaan Gereja adalah persekutuan yang esa dari orang-orang beriman kepada Yesus Kristus Tuhan dan Juru selamat dunia yang dengan kuasa Roh Kudus dipanggil dandiutus Allah untuk berperan serta dalam mengerjakan misi Allah, yaitu karya penyelamatan Allah di dunia”(alinea 2b). Selanjutnya pada akhir alinea dituliskan: “Dalam kebersamaan yang dijiwai oleh iman Kristiani serta semangat persatuan dan kesatuan bangsa, GKI membuka diri untuk bekerjasama dengan Gereja-gereja lain, pemerintah, serta kelompok-kelompok yang ada di dalam masyarakat, guna mengusahakan kesejahteraan, keadilan, perdamaian dan keutuhan ciptaan bagi seluruh rakyat Indonesia”

Kemudian Tata Dasar GKI mempertegas dalam pasal 6 butir 3: “GKI berperanserta secara penuh dalam mewujudkan: a. Gereja Kristen Yang Esa di Indonesia; b. Gereja Kristen Yang Esa di Asia dan dunia”  Jadi para pemimpin gereja (GKI) itu tahu sebenarnya tugas dan fungsi gereja untuk mewujudkannya yaitu dengan membuka diri dan bekerjasama dengan gereja-gereja lain.

Sampai di situ kita paham, jelas dan gamblang, cuma bagaimana realitanya? Yang menjadi pertanyaan berapa prosen anggota gereja tahu, kenal dan menyukai bahkan memiliki spirit ekumene. Paling-paling mereka tahu ekumene itu cuma acara kumpul-kumpul dengan saudara seiman yang lain.

Bersaing atau Bersanding?

Bersaing merupakan ciri organisasi sekuler yang ingin menguasai segalanya. Bersanding merupakan ciri organisasi gerejani yang taat pada panggilan Kristus. Sah-sah saja membuat promosi acara akbar suatu gereja, asal dikemas secara etis dan tidak arogan.

Obsesi Gereja Kristen Yang Esa (GKYE) memang harus dimiliki setiap orang Kristen di Indonesia. Walau PGI yang mencetuskan gagasan ini, namun gereja maupun para gereja (para church) harus merasa­kan sebagai kebutuhan yang mendesak. Konsep GKYE bukan struktural organisatoris yang melembaga, tetapi harus mendasarkan pada kesatuan hati-jiwa- roh dalam Yesus Kristus.

Untuk mewujudkan GKYE kita harus mulai dengan ‘membuka diri’ dan ‘menjalin komunikasi’ dengan saudara seiman yang lain. Mengenal, mengasihi dan melayani. Bisakah gembala sidang yang satu mengenal gembala  sidang gereja tetangganya yang beda denominasi? Siapa yang harus memulainya?  Wah, sulit barangkali tidak ada waktu. Padahal kita tahu panggilan itu mulia, lalu kapan kita wujudkan Gereja Kristen Yang Esa (GKYE)?  

Proses Mengesa

GKYE bukan supra organisasi dari organisasi gereja-gereja yang ada. GKYE terpulang pada setiap orang beriman yang mau mewujudkan doa Yesus sebagai pendoa syafaat sejati: “supaya mereka menjadi satu” – dari bahasa Yunani: “hina pantes hen osin”  – “that all of them maybe one” (bahasa Inggris). Bahasa Latinnya: “Ut omnes unumsint dan bahasa Jawa: “supados sadayanipun sami dadosa satunggal” (Yohanes17:21a). Ya bahasa pun berperan untuk penghayatan, silahkan cari dalam Alkitab bahasa apapun, karena itu diucapkan Tuhan Yesus, guru bahkan Kepala Gereja kita.

Di lingkup nasional telah eksis Dewan Gereja-gereja di Indonesia (DGI) pada 25 Mei 1950. Kemudian nama itu diubah menjadi Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia (PGI). Aras nasional ini lebih dikenal dengan istilah ekumenikal. Itulah sebabnya bulan Mei dijadikan bulan Ekumene.

Di lain pihak dibentuklah juga Persekutuan Injili Indonesia tahun 1971 di Batu, Malang. Kemudian nama itu diubah menjadi Persekutuan Gereja Lembaga Injili Indonesia (PGLII).Kelompok ini lebih menekankan gereja pada aspek evangelisasi. Tak berhenti di situ, maka gereja-gereja Pentakosta membentuk Dewan Pentakosta di Surabaya tgl.14 September 1979, yang kemudian 22 Oktober 1998 diubah menjadi Persekutuan Gereja-gereja Pentakosta (PGPI). Kelompok ini lebih mengutamakan aspek Pentacostal.

Di aras nasional masih ada Gabungan Gereja Baptis Indonesia (GGBI) yang dibentuk 12 Agustus 1971. Belum lagi gereja-gereja Advent menghimpun wadah nasional Gereja Masehi Advent Hari Ketujuh (GMAHK). Ada lagi Gereja Orthodox Indonesia, yang mempunyai jemaat-jemaat di pelbagai kota di Indonesia.

Ada Ketersalingan

Intinya kalau dirangkum, semua pola pendekatan adalah ketersalingan dalam konteks Indonesia yaitu: “dalam rangka sejarah, tugas panggilan, kewenangan dan tugas panggilan bersama”. Semoga kita bukan hanya menikmati ekumene dari mimbar gereja saja, tetapi merasakan penghayatan dalam kehidupan bergereja dan bermasyarakat.

Memang kalau bicara soal itu, tiap orang punya selera, latarbelakang bahkan pandangan yang berbeda. Semuanya butuh waktu tetapi bukan berarti kita bisa kesampingkan dan kembali sibuk dengan rutinitas masing-masing gereja yang tak kunjung habisnya. Kita tidak ber-ilusi tentang sebuah organisasi dengan perangkat departemen keesaan. Bukan itu, karena yang kita utamakan dan kerjakan adalah spirit pembaharuan tubuh Kristus yang sudah terpecah-pecah ini.

Memang ini kenyataan yang paradoksal, beberapa gereja baru tiba-tiba muncul dan memproklamirkan diri. Padahal kalau ditelusuri gereja itu lahir dari suatu gereja yang sama, dari satu denominasi yang sama. Dua-duanya mengatakan saya dapat misi dari Tuhan, masak Tuhan yang sama punya misi yang beda? Ada lagi pengalaman lain ketika sebuah PD (Persekutuan Doa) lahir, mereka mengatas namakan ekumene untuk mendapat audiens sebanyak-banyaknya. Lalu ketika sudah mapan dan banyak anggotanya, mereka memploklamirkan sebuah gereja baru.

Karena itu kita perlu lebih mengutamakan Kristus (Christocentris) ketimbang mengutamakan organisasi gereja (ekklesiocentris) yang kadang menjadi pemicu pecahnya sebuah lembaga sakral ini. Kita perlu menjadi pengikut Kristus yang sejati dengan mempunyai keanggotaan gereja yang jelas.

Tapi ini yang perlu kita renungkan, menjadi pengikut gereja tidak dengan sendirinya menjadi pengikut Kristus yang baik. Tetapi menjadi pengikut Kristus yang setia, akan menjadikan kita makin mencintai semua jemaat yang lain sebagai anggota tubuh Kristus.

BAMAG Lahir Karena Kebutuhan

Pada era tahun1970-an DGIS (sekarang PGIS) melalui Departemen Pelayanan dan Kesaksian yang diketuai oleh H.B. Prawiromaruto, SH. mencoba merealisir fellowship gereja-gereja di Surabaya. Kenyataannya hanya gereja-gereja yang tergabung di DGI yang menanggapinya. Kendala inilah yang kemudian di sharingkan bersama tokoh-tokoh Kristen di GPIB Maranatha pada akhir tahun 1970. Acara ini mengundang Let.jend. (Purn) Tahi Bonar Simatupang. Dia adalah salah satu pendiri Tentara Nasional Indonesia (TNI), yang pernah menjabat juga sebagai Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD).

Pak Sim, panggilan akrab beliau, merindukan adanya kesatuan gereja-gereja di Surabaya melalui pertemuan periodik. Wawasan ekumenis ini ditanggapi positif oleh pimpinan gereja-gereja dan tokoh-tokoh Kristen di Surabaya.

Melalui pergumulan doa dan pertemuan berkali-kali, mereka merindukan dibentuk suatu badan musyawarah yang independen, inter-denominasi. Tepatnya tanggal 27 Juni 1975 lahirlah Badan Musyawarah Antar Gereja (BAMAG). Disepakati agar semua gereja di Surabaya yang terdaftar di Bimas Kristen Departemen Agama RI, yang mengakui Alkitab Perjanjian Baru dan Perjanjian Lama yang adalah Firman Allah, sebagai anggotanya.

Wadah ini bukan supra struktural dari gereja-gereja di Surabaya, tetapi lebih bersifat sebagai “jembatan, jejaring” agar tritugas panggilan gereja itu diwujudkan dalam kebersamaan. Kehadirannya juga didukung oleh lembaga-lembaga aras nasional yang memiliki perwakilan di Surabaya seperti PGI, PGLII, PGPI, GGBI, GMAHK, Gereja Orthodox Indonesia bahkan Keuskupan Gereja Katolik di Surabaya. Berulangkali BAMAG mengadakan acara bersama dengan lembaga aras nasional ini.

Pengurus BAMAG usai Persekutuan Doa dan Makan Pagi di GKI Manyar, Surabaya

Quo Vadis Ekumene?

Sejauh mana kita menjadi pengikut Kristus? Atau tetap menjadi pengikut gereja yang cenderung menghadirkan ‘kerajaan gereja’ bagi diri dan kelompoknya dan tidak menghadirkan ‘Kerajaan Allah’ bagi umat manusia yang kita layani. Bukankah sebagian dari gereja-gereja melakukan ikrar Credo tiap Minggu? Bunyinya: “Aku percaya kepada Gereja yang Kudus dan Am”. Mari kita wujudkan spirit ekumene di jemaat kita dengan kepelbagaian yang ada. Kedepankan hal-hal yang primer demi keesaan dan kesampingkan hal-hal yang menghambat proses itu, seperti apa yang dikatakan oleh Agustine of Hippo: “In essential-unity, In non essentialliberty, In all thingcharity”.

Rujak Cingur bisa basi bila tidak segera dinikmati, ekumene sebetulnya tidak akan basi kalau kita mau belajar dari sejarah. Bukankah sejarah adalah goresan ulah manusia yang ikut bertanggung jawab terhadap karya Allah yang besar terhadap umat-Nya? Rujak Cingur memang lezat rasanya, tapi ekumene bahkan harus lebih nikmat ketika orang Kristen mau mengejawantahkan esensi GKYE. Ayo kita kedepankan kesamaan, kesampingkan perbedaan. Supaya mereka menjadi satu. “Sungguh alangkah baiknya dan indahnya, apabila saudara-saudara diam bersama dengan rukun” (Mazmur 133:1).

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here