Aspek Kebersihan Dalam Iman Kristen

0
6

Hidup sehat adalah keinginan setiap orang; sebab hanya saat badan kita sehat lah kita dapat melakukan banyak hal yang berguna bagi diri sendiri maupun orang lain. Ketika kita sakit; maka kita tidak lagi mampu berbuat banyak hal; karena penyakit akan membelenggu dan membatasi diri kita untuk melakukan pekerjaan. Sakit bukan hanya menyiksa badan dan jiwa; tetapi akan memberikan dampak sosial, ekonomi, dan pendidikan.

Uang akan terkuras untuk biaya pengobatan, sementara Anda tidak bisa efektif bekerja; bahkan pikiran juga ikut terganggu. Dan bila Anda sudah berkeluarga, maka dampak itu akan ikut dirasakan oleh seluruh anggota keluarga. Kejadian wabah virus Covid-19 membuka mata kita betapa krusialnya kesehatan. Sekolah diliburkan, kantor-kantor ditutup, ekonomi terganggu, politik dan keamanan juga ikut terpengaruh.

Kesehatan Berhubungan Dengan Kebersihan

Masyarakat menjadi sadar bahwa kesehatan bukan saja masalah pribadi; tetapi juga bagian integral dari ekonomi, sosial, politik, pendidikan dan keamanan serta pertahanan suatu bangsa. Kesehatan adalah sesuatu yang  penting untuk kelangsungan hidup seseorang; bahkan untuk sebuah bangsa; sebab hanya orang sehat dan bangsa yang sehat; yang mampu menghasilkan karya yang sehat bagi dirinya dan bagi bangsanya.

Alkitab mencatat adanya beberapa ritual Yahudi yang berkaitan dengan kebersihan diri; meskipun pada saat hukum atau ritual tersebut diberikan; maknanya adalah dalam konsep pentahiran atau pengudusan dari sesuatu yang dianggap najis. Itu wajar, karena ilmu pengetahuan tentang kesehatan dan kedokteran belum berkembang seperti sekarang.

Netilat Yadayim dan Tevilah

Orang Farisi itu melihat hal itu dan ia heran, karena Yesus tidak mencuci tangan-Nya sebelum makan. Tetapi Tuhan berkata kepadanya: “Kamu orang-orang Farisi, kamu membersihkan bagian luar dari cawan dan pinggan, tetapi bagian dalammu penuh rampasan dan kejahatan. (Lukas 11:38-41).

Orang Yahudi memiliki banyak kebiasaan membersihkan diri sebagai bagian dari ritual pentahiran; salah satunya adalah netilat yadayim; yaitu mencuci tangan dan mengucap doa sebelum makan, termasuk makan roti dan “matzah”. Mereka akan menuangkan air dari buyung sebanyak dua atau tiga kali pada masing-masing tangan, lalu mengucapkan doa; dan dilarang untuk berbicara sebelum ritual itu selesai. Bahkan netilat yadayim tetap harus dikerjakan ketika tangan dalam keadaan bersih. 

Itulah sebabnya ketika orang Farisi melihat Yesus tidak mencuci tangan sebelum makan, mereka heran dan mempersoalkannya. Netilat yadayim mutlak harus dikerjakan sebagai simbol pembersihan atau pengudusan diri; seperti halnya mayim acharonim, yaitu mencuci tangan setelah makan dan negel vasser, yaitu mencuci tangan ketika bangun tidur. 

Dalam Imamat 15; juga terdapat perintah untuk membersihkan diri yang disebut “tevilah”; yaitu mandi atau membersihkan sekujur tubuh. Tevilah harus dikerjakan saat tubuh tercemar oleh lelehan yang keluar dari aurat laki-laki maupun perempuan. Bahkan pakaian, tempat tidur dan barang-barang serta perkakas yang ikut tercemar oleh lelehan tersebut juga ikut najis; sehingga harus dicuci bersih.

Beberapa penafsir menyebut bahwa lelehan itu adalah air mani atau sperma yang tertumpah keluar; dan juga lelehan lain yang keluar secara tidak normal dan ditafsirkan sebagai penyakit kelamin yang memberikan gejala berupa keluarnya sekret atau cairan dari kemaluan laki-laki yang berpotensi menularkan. Sedangkan bagi wanita lelehan itu adalah darah yang keluar pada saat menstruasi, maupun yang terjadi diluar waktu haid dan lelehan lainnya dari kemaluan.

Allah Menyukai Kebersihan

Beberapa contoh ritual pentahiran ini menunjukkan bahwa Allah adalah pribadi yang menyukai kebersihan. Terpujilah Tuhan, bahwa pada zaman sebelum ilmu kedokteran berkembang seperti saat ini.  Allah telah mengajarkan tentang pentingnya kebersihan; yang berguna bagi kesehatan.

Tetapi kebersihan dan pentahiran yang diajarkan Allah melalui hukum-hukum Taurat itu bukan hanya bermakna secara lahiriah saja; atau dalam konteks  yang berhubungan dengan kesehatan dan pencegahan terhadap penyakit menular saja; tetapi memiliki makna rohani yang penting bagi hidup iman kristen.

Dan hal inilah yang Yesus katakan pada orang Farisi dalam Lukas; pada saat Ia berkata: “Kamu orang-orang Farisi, kamu membersihkan bagian luar dari cawan dan pinggan, tetapi bagian dalammu penuh rampasan dan kejahatan”.

Yesus ingin mengatakan bahwa ritual pentahiran seperti membersihkan cawan dan pinggan, serta mencuci tangan bukan sekedar untuk bersih dari debu atau bakteri yang bisa menimbulkan penyakit; tetapi merupakan suatu peringatan bahwa manusia batiniah kitapun harus terus menerus dibersihkan dari perkara-perkara jahat dan yang tidak diperkenan Allah. Bahwa kebersihan dan kekudusan adalah keinginan Allah.

Kebersihan Rohani Sebagai Kunci Hidup Iman yang Berbuah

“Akulah pokok anggur yang benar dan Bapa-Kulah pengusahanya. Setiap ranting pada-Ku yang tidak berbuah, dipotong-Nya dan setiap ranting yang berbuah, dibersihkan-Nya, supaya ia lebih banyak berbuah. Kamu memang sudah bersih karena firman yang telah Kukatakan kepadamu”. (Yohanes 15:1-3).

Anggur adalah tanaman yang istimewa; karena untuk menghasilkan buah yang lebat dan berkualitas dibutuhkan pemangkasan. Pemangkasan bagi tanaman anggur sangat penting jika kita menginginkan tanaman anggur yang sehat dan produktif. Tanaman lain mungkin bisa dibiarkan sendiri atau hanya perlu pemangkasan ringan, tetapi itu tidak berlaku untuk anggur. Ketika dibiarkan begitu saja, anggur menjadi berantakan, kusut dan tidak menghasilkan buah yang cukup dan baik.

Pemangkasan ditujukan untuk membersihkan pohon anggur dari penyakit tanaman yang bisa mengganggu pertumbuhannya, untuk memberikan support dan agar sari makanan bisa lebih efektif diterima oleh cabang-cabang yang sehat.

Perumpamaan ini diberikan Yesus untuk mengajar pada kita bahwa hanya melalui kebersihan hati dan kekudusan saja kita bisa bertumbuh dan berbuah. Anda akan tidak bisa berbuah selama masih membiarkan bibit penyakit dosa atau tabiat kedagingan dalam hidup iman; sebab hal itu akan menghambat pertumbuhan iman. Membiarkan tabiat lama dan kebiasaan berdosa tanpa pernah membersihkannya, ibarat membiarkan bakteri dan virus tetap tinggal dalam kehidupan kita. Dan hal itu akan menimbulkan penyakit dan membuat kita menjadi sakit.

Pembersihan adalah syarat mutlak untuk hidup iman yang berbuah. Seperti halnya tangan dan tubuh yang tidak bersih akan menimbulkan penyakit; bahkan bisa menulari orang orang; demikian juga dengan hidup iman kita. Kita perlu untuk membersihkan batin kita dengan meninggalkan segala noda dosa dan tabiat buruk agar bisa terus bertumbuh dan berbuah bagi kemuliaan Tuhan.

Bagaimana Caranya?

Yesus memberikan jawabannya; yaitu dengan tinggal di dalam Firman-Nya. “Tinggallah di dalam Aku dan Aku di dalam kamu. Sama seperti ranting tidak dapat berbuah dari dirinya sendiri, kalau ia tidak tinggal pada pokok anggur, demikian juga kamu tidak berbuah, jikalau kamu tidak tinggal di dalam Aku.” (Yohanes 15:4). 

Yesus adalah Sang Firman itu sendiri. Dengan mengetahui kebenaran-kebenaran Firman, menyimpannya dalam hati serta melakukannya, maka kita sedang melakukan pembersihan diri dari tabiat dan perilaku kita yang buruk. Melalui Firman itulah kita akan mengetahui kebenaran dan kebenaran itu akan memerdekakan kita; sebab Firman itu akan mengajar kita, menyatakan apa yang salah dan apa yang benar, memperbaiki kelakuan dan mendidik kita dalam kebenaran; sehingga kita menjadi makin bersih dan makin serupa dengan gambaran anak-Nya. 

Segala tulisan yang diilhamkan Allah memang bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran. Dengan demikian tiap-tiap manusia kepunyaan Allah diperlengkapi untuk setiap perbuatan baik. (2 Timotius 3:16-17).

Mulailah dengan membiasakan diri bersaat teduh setiap hari. Milikilah waktu pribadi bersama Tuhan melalui doa dan pembacaan firman-Nya, serta berusaha melakukannya dalam kehidupan sehari-hari. Milikilah relasi yang terus menerus dengan-Nya dalam seluruh aspek kehidupan. Dengan melakukan itu maka Anda melakukan proses pembersihan diri.

Hiduplah bersih secara jasmani dan rohani; sehingga kita menjadi sehat secara badani dan rohani; terhindar dari penyakit dan menghasilkan buah-buah iman, dalam kasih serta perbuatan baik. Hiduplah kudus karena menjadi kudus adalah panggilan iman dan keinginan Allah. “Tetapi hendaklah kamu menjadi kudus di dalam seluruh hidupmu sama seperti Dia yang kudus, yang telah memanggil kamu,sebab ada tertulis: Kuduslah kamu, sebab Aku kudus.” (1 Petrus 1:15-16).

Penulis: Dr. Antono Pratanu, SpU (Spesialis Urologi RS Sidowaras Mojokerto)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here