Home Sweet Home

0
3

Mid pleasures and palaces though I may roam, Be it ever so humble, there’s no place like home; A charm from the sky seems to hallow us there, Which, seek thro’ the world, is ne’er met with elsewhere.

Refr: Home! Sweet, sweet home! There’s no place like home. There’s no place like home.

Penggalan syair lagu di atas menggambarkan indahnya keluarga bahagia. Bagi yang tergolong lansia tentu kenallagu “Home Sweet Home” bukan? Lirik lagu itu ditulis oleh John Howard Payne dan musiknya diaransir oleh Sir Henry Rowley. Lagu ini pertama kali dilantunkan pada Bishop’s opera Clari, atau the Maid of Milan tahun 1823.

Di Mazmur 127:1 tertulis: “Jikalau bukan Tuhan yang membangun rumah, sia-sialah usaha orang yang membangunnya.”Alkitab Septuaginta (LXX) bahasa Yunani, memakai kata oikos yang menggambarkan: family, home, house, household. Salomo menuliskan ungkapan itu dengan kata ‘jikalau bukan Tuhan’, karena dia mengalami bagaimana keadaan keluarga yang tidak melibatkan Tuhan.

Dua syair yang berbeda. John Payne menggambarkan Home Sweet Home secara anthropocentris (sudut pandang manusia). Sedang Salomo melihat keseluruhannya secara anthropo-theocentris (baik sudut pandang manusia maupun sudut pandang Allah).

Ada sebuah ungkapan yang mengatakan: “Untuk membangun sebuah keluarga dibutuhkan dua orang, tetapi untuk menghancurkan cukup satu orang saja”. Kenyataan ini bisa kita tonton di Insert (Informasi Selebriti) program Trans TV pukul 7.00. Sesuai namanya, Insert menampilkan pernak-pernik kehidupan selebritis. Kadang bercerita tentang sosok artis yang mudah mendapat jodoh. Tapi tak jarang bercerita tentang artis yang bercerai dalam bilangan tahun saja. Gejala ini sebenarnya dapat ditenggarai dalam masyarakat post modern yang lebih luas.

Jadi pernikahan adalah kebersamaan dua orang yang mempunyai tujuan hidup yang dirancang bersama. Namun dalam konteks teologis, ada aspek-aspekkebersamaan yang membuat rumah tangga itu home sweet home. Betul-betul sebuah keluarga harmonis yang manis. Paling tidak ada empat aspek dalam kebersamaan yaitu:

Komitmen

Keluarga diciptakan oleh Allah dari dua insan yang unik, berbeda kodratnya tetapi sesuai tujuan ilahi (Divine purpose) untuk menjadi satu. Kesatuan dalam perbedaan di mana mereka saling mengasihi dalam interaksi dan inter-relasinya. Karena itu keduanya tidak pernah berhenti dari proses belajar untuk mengerti pasangannya. Selain mengemban tujuan ilahi, manusia juga adalah Imagodan similitudo Dei, dicipta segambar dan serupa dengan Allah. Kalau Allah memiliki sifat ‘kasih setia’, maka kasih setia itu juga harus dipancarkan dalam kehidupan pasangan suami istri (pasutri). Artinya tidak cukup dengan unsur mengasihi, tetapi juga harus setia. Kesetiaan adalah batu penjuru dari karakter.

Manusia memang cenderung berubah, sejatinya orang percaya harus berubah menjadi lebih baik. Winston Churchill berkata: “Usaha perbaikan merupakan perubahan, sedang untuk menjadi sempurna membutuhkan perubahan yang lebih sering” Keduanya harus memiliki komitmen  bersekutu dengan Tuhan dalam kehidupan keluarga. Suami-istri harus menjadi teladan keharmonisan bagi anak-anak. Dengan demikian keluarga yang harmonis akan berfungsi sebagai garam dan terang bagi sekitarnya, sekaligus memberkatinya. Betapa indahnyabila semua anggota keluarga memuliakan Tuhan tiap hari. Jadi keharmonisan memang harus berawal di rumah, sehingga bisa dikatakan Home Sweet Home.

Harus diakui, kemajuan teknologi mendorong peningkatan kebutuhan orang. Contohnya barang-barang elektronik, motor dan mobil adalah target kebutuhan yang diutamakan. Belum lagi gaya konsumtif, masyarakat cenderung ke rumah makan daripada makan di rumah. Belanja di mall bukan untuk pemenuhan kebutuhan, tapi target sebuah kepuasan.Situasi zaman postmodern ini memicu orang untuk mengejar materi yang dikaitkan dengan waktu, sehingga motonya “time is money”. Berangkat dari filosofi ini manusia makin materialistis dan individualis. Jadi betul kalau dalam 1 Timotius 6:10a dituliskan:  “Karena akar segala kejahatan ialah cinta uang”. Uangnya sendiri netral, artinya tidak baik dan tidak jahat. Tergantung bagaimana kita menyikapi dan memakainya.

Sekarang ini muncul akronim yang menggambarkan etos kerja yang tidak efektif sebagai P7: Pergi pagi pulang petang, pendapatan pas-pasan. Yang terakhir ini mengenai masalah uang lagi. Akibat situasi semacam ini, tidak ada waktu lagi untuk dialog atau ngobrol antar pasutri, ortu dengan anak-anak. Yang terjadi sekarang hanya berbicara seperlunya, lalu masing-masing masuk ke kamar. Kondisi ini memicu anggota keluarga makin egois dan apatis. Padahal dalam sebuah keluarga harus ada ketersalingan. Jadi, mestinya sebuah keakraban dan kebersamaan mutlak diperlukan. Tentu semuanya berdasarkan komitmen atau kesepakatan yang mengalir bukan dirancang secara kaku.

Keharmonisan dimungkinkan kalau anggota keluarga bisa berkomunikasi, mengekspresikan ide, keinginan, harapan bahkan kekecewaan denganpelbagi pengalaman keseharian. Dari situ mereka belajar mendengarkan dan memahami satu dengan yang lain. Ini kunci penyesuaian untuk saling mengerti dan kemudian saling menghargai.

Investasi

Bukankah keluarga itu dibangun dengan investasi yang mahal? Itu butuh kasih, tekad, waktu, kesiapan, pengorbanan, dsb.nya. Tapi jangan lupa, uang juga merupakan kebutuhan. Asal bukan uang adalah segalanya. Bisa dibayangkan dua insan yang seia sekata memadu kasih, tak segan mereka berhemat untuk investasi acara pernikahannya. Baik sandang, pangan maupun papan kalaupun mau segera bisa didapatkan. Apalagi zaman kemudahan seperti sekarang, calon mempelai bisa investasi rumah model apapun dengan KPR (Kredit Pemilikan Rumah). Mau fasilitas mobil yang ngetrend, ada KPM (Kredit Pemilikan Mobil). Asal semua syarat terpenuhi, melangkahlah dua insan dengan suatu tekad membayar cicilan kemudian.

Acara akbar yang akan digelar pasti dipersiapkan detail jauh-jauh hari. Gaun kemantin wanita yang anggun dan jas pria yang feisyen.Belum lagi kartu undangan yang mengundang decak sipenerimanya. Lalu tak lupa menggunakan EO (Event organization) untuk menggelar acara yang berkesan dan membuat kepuasan para undangan, baik acara maupun hidangan.Bukankah  itu juga investasi yang mahal? Di balik itu semua pasutri lupa, bahwa modal utama keluarga Kristen itu adalah kasih, bukan cinta. Kasih dalam dinamika keluarga bukan bicara nomina (kata benda), tapi kasih itu verba (kata kerja).

Yang menarik pembicaraan Yesus dengan Simon Petrus di tempat yang sama, tapi dalam kurun waktu yang berbeda. Yang pertama di Lukas 5:1-11, ketika Petrus jatuh cinta pertamanya dengan Yesus. Dan yang kedua selang tiga tahun, diceritakan dalam Yohanes 21:15-17. Tidak ada satu kata pun Petrus mengatakan: ‘Aku mengasihimu’. Yang terucap adalah: ‘Aku mencintaimu’. Silahkan baca Alkitab dalam bahasa sehari-hari. Alkitab bahasa Yunani memakai dua kata yang berbeda. Mengasihi atau agapaō yang berarti kasih yang tidak bersyarat (unconditional). Kasih yang selalu memberi seperti dicontohkan Yesus. Sedang Petrus secara jujur hanya mengatakan: mencintai atau phileō yang berarti kasih yang selalu bersyarat (conditional). Karena itu pasutri butuh kasih agapē, sebagai dasar pernikahannya.

Maintenance  

Kalau sebuah rumah butuh perawatan, demikian juga rumah tangga. Keluarga harmonis itu bukan datang dengan sendirinya, tapi harus diciptakan berdua. Namun hal ini yang sering dilupakan, membangun dan membeli sesuatu itu mudah. Nah, memelihara kelangsungan agar yang sudah dibangun dan dibeli itu tidak sia-sia. Maka maintenance merupakan kunci agar kisah kasih yang dibangun akan berkelanjutan dalam rencana Allah (the story will keep continue in God wonderful plans). Di sinilah kasih itu memberi tidak selalu meminta. Dibutuhkan ketersalingan dalam memberi dan menerima (to give and to take).

Sikap pro aktif juga ditulis oleh Erich Fromm sbb: “Kasih itu suatu tindakan aktif, bukan perasaan pasif. Kita ‘berdiri dalam kasih’ bukan ‘jatuh ke dalamnya’. Sifat aktif kasih itu dapat dilukiskan dengan menekankan bahwa kasih itu terutama memberi dan bukan menerima” (John Powell, The Secret of staying in Love, Nile USA 1974).

Pernikahan di anugerahkan Allah bukan hanya dengan aspekprocreation untuk membuahkan keturunan. Tetapi juga ada aspek recreation (rekreasi) agar pasutri memperoleh relaksasi dalam meneruskan rencana Allah. Rekreasi inilah merupakan refreshing (penyegaran) bagi pasutri untuk senantiasa memelihara kasih mula-mula itu. Tuhan mempunyai tujuan agar manusia memiliki recovery (pemulihan) dalam kehidupannya. Baik itu menyangkut masalah mental dan spiritual, maupun biologis agar mereka punya energi baru.  Bisa itu berbentuk week end pasutri atau bersama keluarga. Keletihan bahkan kejenuhan rutinitas kerja yang hampir over load, bisa menjadi cooling down. Ada penyegaran sekaligus merancang bersama ke masa depan yang lebih cerah.

Relationship

Hakikat Allah adalah berkomunikasi maka manusiapun diberi kemampuan berkomunikasi. Jadi manusia bukan sekedar ‘citra Allah’ tetapi ia adalah juga ‘mitra Allah’. Manusia diciptakan dalam suatu relasi yang khas dan komunikatif dengan Allah penciptanya. Baik secara pribadi maupun sebagai pasutri, harus mengutamakan relasi dengan Tuhan. Membina hubungan bukan sekedar bergaul, tapi harus mampu menyenangkan orang lain dan diri sendiri. “Jika kita menginginkan yang terbaik dari seseorang, kita harus mencari yang terbaik di dalam dirinya”, demikian ujar Bennard Haldane.

Kini adanya perangkat pintar handphone dsbmembuat pengguna berusaha untuk terus berkomunikasi. Terkadang, pengguna tak merelakan perangkat pintar miliknya berada terlalu jauh. Sebuah studi yang di gelar oleh Mobile Consumer Habit tahun 2013 yang dilansir Mashable (12/7/13), menyatakan 3 dari 4 peserta survey selalu membawanya ke mana dan kapanpun mereka pergi. Hasil survey menyatakan pengguna tidak dapat lepas dari perangkat pintar mereka bahkan saat berada di gereja (19 %), kencan makan malam (33 %) dan juga di kamar mandi (12 %).Bahkan 9 % di antaranya menggunakan perangkat pintar saat berhubungan seks, seperti mengecek SMS atau menerima telepon. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa perangkat pintar sedikit demi sedikit menggeser posisi cinta.

Sejatinya Allah memberikan komunikasi itu sebagai sarana membangun dan memelihara  sebuah keluarga. Kenyataannya, betapa sering kita lihat sebuah keluarga berekreasi makan di luar. Tapi akhirnya di meja makan, masing-masing anggota tidak berkomunikasi satu dengan lain. Yang terjadi mereka sama-sama memegang perangkat canggih itu dan berkomunikasi dengan orang yang jauh di sana. Atau mereka sibuk menggunakanfasilitas permainan di perangkat elektroniknya.

Kalau nas Alkitab mengatakan ‘yang jauh menjadi dekat’, kini diubah manusia menjadi ‘yang dekat menjadi jauh’, karena orang tidak lagi memahami esensi relasi dalam keluarga. Aneh, tapi itu sebuah kenyataan dampak negatif alat komunikasi. Sadar atau tidak sadar, kita sedang menuju kehampaan arti sebuah “Home sweet Home”.  Komunikasi non verbal sangat dibutuhkan demi menunjang komunikasi verbal yang telah tersita dengan perangkat elektronik. Walau itu sebuah senyum atau pandangan. Apalagi dengan komunikasi sentuh rasa, hal ini akan terus membangun harapan kita mengatakan “Home sweet Home” (doc)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here