Hospitaliti Di Masa Pandemi. Masihkah Gereja Melakukannya?

0
5

Hospitaliti adalah karakter melayani dan peduli pada kebutuhan orang lain, dapat juga diidentikkan sebagai karakter yang mengutamakan kenyamanan orang lain. Dalam dunia industri pariwisata, hospitaliti adalah fondasi, di mana kesopanan dan perilaku yang menarik adalah perangkat utama industri pariwisata.

Hospitaliti tidak pernah terlepas dari perasaan, karena terkait erat dengan kenyamanan seseorang. Secara sejarah, hospitaliti di mulai pada zaman pertengahan oleh biarawan-biarawan ketika mereka menerima para pengembara yang kemalaman dalam perjalanan. Para biarawan memberikan tempat istirahat serta makanan yang membuat mereka kuat untuk melanjutkan perjalanan keesokan harinya. Dari peristiwa pelayanan itu kemudian berkembang menjadi industri perhotelan, di mana kenyamanan pelanggan di nomorsatukan.

Jelaslah bahwa bagi setiap insan di dalam industri tersebut berkewajiban untuk menanamkan impresi atau kesan baik yang menetap (agar tinggal tetap) dalam benak setiap turis bahkan setelah mereka kembali ke kota atau negara asalnya.

Bagaimana dengan gereja? Masihkan melakukan hospitaliti tersebut dan bagaimana caranya? Kisah tiga orang perempuan dari Alkitab ini dapat menginpirasi kita.

Perbuatan Marta

Hospitaliti tampak dalam sikap Marta ketika Anak Allah mengunjungi rumahnya. Bisa jadi segala kebutuhan Sang Tamu telah dipersiapkan, bahkan jauh sebelum kedatangan-Nya dan terus berlanjut hingga saat kedatangan-Nya. Marta sibuk keluar masuk membawa makanan dan minuman. Sementara kenyamanan Sang Tamu adalah agar tuan rumah duduk mendengarkan kisah-Nya yang pasti luar biasa dan tentu saja berdampak. Kenyamanan Sang Tamu terlewati oleh perhatian Marta, karena terlalu fokus pada keinginannya memberikan pelayanan yang terbaik.

Masa pandemi Covid-19 ini gereja-gereja tetap berusaha memberikan pelayanan terbaik, baik melalui streaming maupun ibadah dengan protokol kesehatan. Namun, apakah keinginan pelayanan gereja ini sudah sesuai dengan kebutuhan rohani setiap lapisan jemaatnya yang adalah juga Tubuh Kristus? Jangan sampai gereja hanya terlalu sibuk dengan keadaan, aturan dan protokol yang ada, tetapi lantas melupakan Kristus sang pemberi kehidupan.

Cara Berpikir Rut

Salah satu wanita yang saya kagumi adalah Rut. Mengapa? karena integritas serta totalitasnya dalam sikap dan hati. Naomi, menurut saya seorang mertua ‘kepala batu’ karena bersikeras untuk pulang seorang diri dari tanah Moab ke kota asalnya di Bethlehem, padahal berjarak 80 hingga 100 kilo meter atau 7 hingga 10 hari perjalanan di masa itu.

Kekaguman lain saya terhadap Rut ketika masih Sekolah Mingggu adalah pada ucapannya, “. . . bangsamulah bangsaku, Allahmulah Allahku.” Padahal Naomi telah berulang kali memaksa Rut untuk kembali ke keluarganya setelah anak Naomi, suami Rut, meninggal. Walaupun saat kecil saya tidak paham arti kalimat tersebut, tetapi perasaan saya berkata bahwa kalimat itu bermakna sangat dalam.

Setelah dewasa barulah saya tahu bahwa dengan diucapkannya kalimat tersebut, berarti Rut yang non Israel telah memproklamasikan dirinya sebagai orang Israel, sekaligus penyembah Allah Israel. Kalimat itu ternyata menyebabkan dirinya menyandang gelar sebagai Proselit Gertsedeq atau proselit total, orang non Yahudi yang menjadi seorang Yahudi secara total.

Di manakah letak karakter hospitalitinya? Secara sepintas karakter Ruth tampak mirip dengan Marta yang ingin melayani dengan total. Bedanya, Rut sekali pun dia seorang non Yahudi, mampu memahami kebutuhan dan kerinduan Naomi akan asal usul dirinya. Sehingga secara konsisten melayani hal itu dengan mengucapkan kalimat saktinya, juga sekaligus menunjukkan integritas dirinya sebagai menantu yang hospitable terhadap mertuanya.

Sikap gereja dalam menghadapi masa pandemi tentu berbeda-beda, ada yang melakukan ibadah secara online, tetapi ada juga yang melakukannya dengan pembatasan sesuai protokol kesehatan. Kebutuhan jemaat tentu juga berbeda-beda. Pertanyaannya, sudahkah gereja berpikir hospitable melihat kebutuhan jemaatnya seperti Rut?

Perasaan Ratu Syeba

Ketika Ratu Negeri Syeba mengunjungi istana Raja Salomo, ia sangat kagum pada hospitaliti dari tuan rumah. Kekaguman sang ratu jatuh pada banyaknya ragam makanan berikut cara penyajiannya, cara karyawan istana duduk, cara pegawai istana berbusana, serta tata cara melayani bahkan cara memilih minuman yang pas untuk sang tamu. Sikap hospitaliti yang sempurna membuat nyaman Ratu Syeba, merasa dihormati dan timbullah respek, dan selanjutnya memperhatikan upacara keagamaan Raja Salomo dengan seksama.

Di awal tahun 2019, bila kata gereja dan hospitaliti dicari melalui google, maka sang raksasa website tersebut mengarahkan pada penelitian mengenai hospitaliti dalam gereja. Luaran penelitian tersebut menunjukkan bahwa 80 persen orang-orang yang rajin pergi ke gereja adalah orang-orang yang merasa disambut hangat oleh gereja. Jemaat yang datang untuk kebaktian disambut dengan senyum lebar dan jabat tangan erat dan hangat, sehingga mereka merasa nyaman untuk beribadah di gereja tersebut.

Penginjilan yang mengutamakan hospitaliti, menomorsatukan keramahtamahan yang dibarengi sopan santun. Jelas bahwa kehidupan bergereja membutuhkan sikap hospitaliti kental yang mungkin dimanifestasikan oleh hati yang bersyukur.

Pada masa pandemi Covid-19 bagaimanakah kenyamanan secara spiritual dapat dirasakan oleh Jemaat yang hanya terlayani melalui kebaktian online? Barangkali memang tugas gereja untuk  segera mendalami bentuk pelayanan yang hospitable. Sebelum jemaat lupa untuk kembali ke gereja di saat pandemi ini hilang, terutama mereka yang tidak dapat dan tidak mampu mengikuti kebaktian online.

Penulis: Juliuska Sahertian

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here